Sunday, April 16, 2017

Pengalaman dan Tips Jual Emas Antam di Butik Emas Simatupang Jakarta

Jadi seperti yang saya ceritakan disini: Perjalanan Mencari Alat Bantu dengar
Saya sedang butuh uang untuk membeli alat bantu dengar yang harganya selangit itu. Jadi saya pun berencana menjual emas batangan saya di Butik Emas. Butik Emas punya beberapa cabang di Jakarta, diantaranya Simatupang dan Pulogadung. Butik Emas baru di launching pada tahun 2013. Jadi beruntung sekarang kalau mau jual emas ga perlu jauh-jauh ke Pulogadung yang terkenal banyak premannya.

Awalnya saya ragu mau jual emas di Butik Emas Pulogadung atau Simatupang. Tapi akhirnya saya pilih yang di Simatupang karena lebih dekat. Saya sempat telepon ke Butik Emas Pulogadung untuk tanya-tanya (sedangkan Butik Emas Simatupang teleponnya tidak aktif). Berikut perbedaan antara Butik Emas Simatupang dan Pulogadung:
- Butik Emas Pulogadung ngantri panjang kalau Butik Emas Simatupang cuma ngatri sebentar. Total saya disana cuma 20 menitan aja.
- Yang di Pulogadung ngantri itu karena disana, setelah jual emas bisa langsung dibayar cash (cmiiw). Jadi cocok kalau mau jual emas yang ga terlalu besar nilainya. Bisa juga ditransfer di hari yang sama senilai maksimal 20 juta kalau banknya Mandiri. Sedangkan saya ga punya Mandiri dan emas yang saya jual total lebih dari 20 juta.
- Sedangkan Butik Emas Simatupang bisa ditransfer ke semua bank tapi harus nunggu 3-4 hari baru duitnya ditransfer ke rekening kita.

Meluncurlah gue ke Antam Simatupang. Butik Emas buka hari Senin-Jumat dari jam 9 pagi. Kalau mau jual emas cuma bisa sampai jam 2 siang, sedangkan kalau mau beli emas bisa sampai jam 3 sore. Dari gedung Antam, sana kita tinggal masuk aja ke Lobinya. Terus tengok ke kiri langsung keliatan gerai Butik Emas. Bilang ke satpam yang ada di depan pintu kalau kita mau jual atau beli emas.
Terus kita dikasih nomer antrian dan tunggu aja di dalem sampai nomer antrian kita dipanggil.

Butik Emas Antam Simatupang

Jam Operasional Butik Emas.

Nomer Antrian

Terus kita bakal ditanya nomer telepon oleh cs nya. Untuk dicek sebelumnya kita beli emas yang mau kita jual di antam juga apa bukan. Karena dulu yang beli emas bukan gue jadi ya ga ada data gue. Tapi gapapa kok.
Setelah itu kita disuruh ke ruangan sebelah untuk timbang emas dan diperiksa keaslian kertas notanya. Kemudian balik lagi ke meja cs kasih ktp dan isi no rekening yang mau di transfer nanti. Lalu emas kita ditotal jumlahnya berapa dan diambil deh, terus disuruh tunggu maksimal 4 hari, hari libur ga dihitung. 

Walaupun di masa nunggu itu agak khawatir juga sih kalau duitnya ga masuk-masuk gimana hahaha. Tapi engga kok. Saya ke sana hari kamis, hari selasa udah masuk uangnya.
So, yang perlu dibawa cuma KTP dan tentu saja emas beserta sertifikatnya.
Sejauh ini sih ya, gue pribadi nyesel sih investasi emas hahaha! Ga mau lagi beli-beli emas, lebih suka investasi reksadana saham.
Karena dibanding reksadana, emas itu lamaaaaa naiknya alias ga terlalu fluktuatif harganya. Dan yang paling bikin sakit itu harga buy back nya rendah, Antam ambil margin penjualannya gede banget. Tapi masih mendinglah ketimbang nabung doang dan emas cocok untuk yang mau coba-coba investasi dan ngerasain naik turunnya harga dan belum punya wawasan cukup tentang jenis-jenis investasi lainnya.
So lets inves for the better future.






Sunday, March 19, 2017

Pegalaman Datang dan Berburu Tiket Murah di Garuda Travel Fair, Maret 2017 di JCC Senayan, Jakarta

Well, gue bela-belain dateng kesini karena ngincer promo tiket Jakarta ke Labuan Bajo, selain udah lama banget mau traveling ke Pulau Komodo gue juga tergiur sama promo di Billboard GATF di Rasuna Said, Kuningan yang 1,5juta PP. Selain itu cuma Garuda yang punya rute terbang direct Jakarta ke Labuan Bajo. Maskapai  lain rata-rata transit di Bali dengan total harga tiket lebih 1,5juta.

Karena Tau bakal ngantri banget seperti tahun-tahun sebelumnya gue dateng jam 7 pagi. Bahkan ada lho yang ngantri dari subuh, gilee... Dan bener aja pas sampe sana membludak banget! Buat yang mau kesini ga diharapkan bawa anak kecil, karena kasian bakal sumpek ngantri segala macem.
Setiap event GATF ini sistemnya beda-beda. Tapi biasanya tetap ada yang namanya program Happy Hour (harga-harga tiket yang dijual lebih murah di jam-jam happy hour ini) yang ternyata harganya ga tetep ga murah-murah banget dan ada juga program cash back untuk pemegang kartu kredit bank tertentu. Nah tiap tahun dan tiap kota GATF ini kerjasama dengan bank yang berbeda-beda dengan sistem cash back yang berbeda-beda pula. Untuk event pada bulan Maret 2017 kali ini GATF kerjasama dengan Bank BNI. Tapi buat nasabah BNI jangan seneng dulu karena promo cashback cuma buat pemagang kartu kredit PLATINUM doang.
Nah buat yang ngincer cash back kuotanya cuma 275 orang per hari, ke 275 orang itu nanti dikasih gelang tanda gitu. Jadi orang-orang ngantri sedari subuh tuh buat dapetin jatah gelang cash back ini. 1 gelang untuk 1 orang pemegang kartu kredit BNI dengan maksimal 2 tiket pembelian.
Berapa banyak cash backnya? 1,5 juta, mayaannn tapiii cuma buat 25 orang tercepat doang! Setelah habis, casbacknya turun jadi 500rb. 

Lalu disana akan banyak booth-booth travel agent. Gw ngiderin berbagai travel agent dari agen yang gede sampai yang kecil. Sampe lutut gue mau copot karena kelamaan berdiri antri. Dan ternyata harga-harga di tiap travel agen itu bisa beda-beda. Ga ngerti juga sih kenapa bisa begitu. Dan sepulang dari sana, temen saya yg sempet datang ke GATF tahun lalu cerita kalau harganya ga semurah tahun lalu.
Buat yang cuma bisa jalan-jalan di tanggal peak season, seperti libur lebaran, libur natal dan tahun baru mending ga usah kemari. Karena itu tanggal black out. Ga akan ada harga promo di tanggal-tanggal itu.
Tips sebelum kesini: siapin beberapa tanggal yang mau lo incer buat pergi. Kalo di tanggal A tiketnya ga promo atau udah abis ganti tanggal B. Inget tanggal ini pas tanggal low season ya kalo mau murah.
Awalnya dengan polosnya gue bilang ke petugas travel agen: 

"Mba, Jakarta-Labuan bajo PP tanggal berapa aja deh yang paling murah."
Mbanya jawab: "Ga bisa, harus ada tanggalnya. Kalo ga saya harus ngecekin satu-satu per tanggal."
OMG polosnya diriku, gue kira bisa langsung keliatan harga termurah di tanggal berapa seperti pada saat cari tiket di apps Sky Scanner. Akhirnya gue pikirin deh tanggal yg low season, jadilah gue pilih tanggal di awal Bulan Puasa. Karena kalo di Indonesia kan low season itu pas bulan puasa. Ternyata tiketnya udah ludes! Jadi untuk tujuan-tujuan yang high demand, seperti Bali dan Labuan Bajo emang cepet banget abisnya. Yang banyak tersisa mungkin kota-kota lain yang bukan tujuan wisata utama orang Indonesia.
Udahlah ternyata gue ga bakat hunting tiket promo di travel fair gini. Mending hunting promo online aja, cuma perlu modal kuota dan kuat begadang. Ga perlu modal dengkul dan energi besar. Lalu Karena udah capek ampun-ampunan akhirnya gue memilih untuk cabut aja. Maaf di sana juga gue ga sempet foto-foto karena saking capeknya :(

Penting sekali untuk diingat, sebelum datang ke acara travel fair kaya gini perlu dipahami term and condition nya apa aja. Dan ini termasuk susah juga, karena biasanya pihak penyelenggara ga kasih info dengan detil aturan mainnya kaya gimana. Yang penting pajang aja harga-harga murah di tiap sosmed untuk nyedot masa.
Pun bulan sebelumnya, februari 2017 Air Asia pernah menyelenggarakan travel fair juga di Mall Kota Kasablanka. Gue sempet mau dateng, tapi ga jadi karena suatu urusan. Dan bener aja dong, gue cek akun twitter Air Asia, acaranya ngantri banget sampe luar kokas bahkan sebelum mallnya buka! Dan lebih parahnya kita cuma bisa beli 1 tiket doang per orang. Jadilah banyak orang yang sia-sia antri karena tadinya mau ajak sekeluarga dsb. 
Pffft Untung aja gue ga jadi kesini.

Jadi buat gue pribadi sih ya, agak kapok dateng ke acara travel fair. Mending hunting online ajalah. Dan kalo tujuannya deket yang mana durasi penerbangannya ga terlalu lama dan dicover sama maskapai lain, mending ga usah ke GATF. Mending naik maskapai lain aja yang lebih  murah karena ga sebanding dengan waktu dan energi yang terbuang.
Ada yang udah pernah dateng ke event travel fair dan beneran berhasil dapet tiket murah? Cerita-cerita dong buat mengobati rasa kapok gue (halah pret!)

Monday, January 16, 2017

Bagaimana Cara Memulai Reksadana Saham untuk Pemula

Pengertian dan penjelasan reksadana, reksadana adalah... 
Jadi saya mau ngejelasin apa itu reksadana buat yang mau coba beli saham reksadana tapi masih belum ngerti sama sekali apa itu reksadana dan bagaimana caranya. 
Karena jujur gue geregetan banget sama rendahnya tingkat literasi keuangan orang Indonesia yang lebih bikin geregetan itu kebutaan akan dunia keuangan ini dimanfaatkan oleh orang yang mau mengambil keuntungan pribadi dari kebodohan masyarakat. 

Jadi dulu gw pernah liat di twitter ada akun yang dimotori oleh seorang motivator agama ternama yang punya follower banyak banget sedang menjaring orang-orang untuk berinvestasi reksadana saham. Dan orang-orang yang mendaftar disuruh setor duit ke dia, yang kemudian akan dikumpulkan dan diinvestasikan atas nama dia.  Dan hasil bunganya tentu saja dibagi dua, yang pastinya si motivator akan mendapatkan keuntungan yang banyak sekali! dan bila rugi, dimana harga reksadana sedang merosot? Emang dia mau ganti rugi?


Dan berapa banyak orang yang tertarik dan ikut mendaftar? Dan itu BANYAK BANGET! Gimana ga? Karena semuanya itu dibalut dengan yang namanya agama. Agama itu emang gampang banget dijadiin alat pembodohan massal, agama apapun itu, selama punya banyak pengikut bodohnya. Makanya gw ga heran Dimas Kanjeng punya segitu banyak pengikut setia. Pernah juga ada riset yg menunjukan bahwa negara-negara yg masyarakatnya menganggap agama itu penting adalah negara-negara susah maju, negara-negara miskin dan negara berkembang. Sedangkan negara-negara yang tidak menganggap agama itu ga penting atau mayoritasnya adalah atheis (contohnya negara-negara eropa, jepang, dll) adalah negara-negara maju.
Jadi disini gw mau ngejelasin apa itu reksadana dengan bahasa seawam mungkin. 

Pertama-tama dalam benak lo coba pikirkan reksadana itu adalah EMAS. Karena aturan mainnya sama seperti membeli emas untuk disimpan dan menunggu harga emas itu naik. Ketika harganya Naik, emas itu akan dijual atau bisa juga tetap disimpan dengan harapan di kemudian hari harga emas akan terus melambung. Tapi, tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi naik turunnya harga emas dengan pasti kan? 
Begitu juga dengan prinsip investasi reksadana saham. Bedanya emas itu dalam bentuk logam dengan satuan berat GRAM, sedangkan reksadana satuannya disebut dengan UNIT.


Nah sekarang kalo mau beli emas dimana? Ga mungkin kan beli di Indomaret atau Alfamart, harus beli di toko emas atau ke ANTAM. Sama dengan reksadana, kalau mau beli reksadana harus dateng ke "toko" khusus. Namanya Perusahaan Sekuritas. Di Indonesia ada banyak seperti Manulife, DanaReksa, Panin, Schroder. Googling aja tuh daftar perusahan sekuritas dan dimana kantornya, nanti kalau udah ngerti tinggal dateng kesana buat daftar. Daftarnya mirip-mirip kaya buka rekening tabungan di Bank lah. Bedanya nanti kita disana di kasih kuis. Suruh isi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui kepribadian lo kaya apa. Tipe pengambil resiko, tipe woles walau harga unit reksadana sedang turun, atau tipe penakut yg panik buru-buru jual reksadanya ketika harga sedang merosot.

Selain ke perusahaan sekuritas lo juga bisa dateng ke bank. Bank apa? Ya bank jual reksadana, sebutannya bank kustodian. Ibaratnya bank ini sebagai distributor gitulah. Misalnya bank BNI, MANDIRI, BRI, Commonwealth Bank dll. Saran gw pilih yang bisa transaksi jual beli reksadana secara online biar ga bolak balik ke bank kalo mau jual atau beli reksadana. Tapi untuk pertama kali daftar memang tetap harus datang ke bank langsung ya. Salah satu yang bisa kaya gini adalah Bank Commonwealth. Gw ga tau ya kalau bank lain gimana, silahkan tanya ke cs bank masing-masing untuk detilnya.


Setelah tau kita harus kemana, sekarang kita harus pilih reksadana saham yang mana? Pilihannya ada banyak banget memang. Dan naik turunnya harga tiap jenis reksadana itu berbeda-beda, tapi ga terlalu jauh kok. Paling beda sekian persen doang.
Salah satu reksadana yang saya punya adalah Schroder Dana Istimewa. Lalu silahkan buka link ini: bloomberg
Dalam website bloomberg tersebut akan terlihat tampilan seperti ini:


A: Harga per unit reksadana. Kurang lebih sama seperti harga emas per gram gitu lah. Tiap hari berubah, bisa naik bisa turun. Kurang lebih diupdate setiap jam 9 malem.
B: Satuan harga unit reksadana tersebut. 
C: Harga per unit pada tanggal tertentu
D: Tanggal (kalau digeser ke kiri tanggalnya mundur) Jadi pada tanggal 22 Desember harga per unitnya adalah Rp. 6,501 koma sekian.
E: Hasil yang kita dapet selama setahun berapa persen. 
F: 1M (1 month/bulan) 1Y (1 year/tahun) 5Y (5 years). Itu artinya pergerakan naik turunnya harga per unit selama 1 bulan/1 tahun/5 tahun. Coba aja diklik satu-satu.
G: Harga unit pada hari sebelumnya 
H: Kode nama untuk reksadana Schroder Dana Istimewa. Semacam nickname, setiap reksadana punya kode yang berbeda.


Nah sekarang timbul pertanyaan, duit yg kita setorin itu dikemanakan sih? Jadi itu duit yg masuk dikumpulin, terus "dikasih" ke yg namanya MI (Manager Investasi) yg ngantor Di tiap perusahaan sekuritas yg jual reksadana untuk kemudian dana itu dikelola oleh MI tersebut. Duit-duit itu bakal dibeliin aneka saham yang ada bursa efek. Jadi lo sering liat kan nama perusahaan yg ada "tbk." di belakangnya, misalnya PT. Indosat, tbk. Nah itu artinya perusahan Indosat itu ada di bursa saham, duit reksadana kita yg dipake untuk beli saham Indosat ya buat modal ngegerakin jalannya produksi perusahaan. 
Makanya namanya reksa-dana atau bahasa inggrisnya mutual-fund. Yg artinya dana gabungan, duit gabungan dari orang-orang yg punya reksadana saham untuk menjalankan roda sebuah perusahaan besar yang ada di bursa efek. Begitu kira-kira, semoga dapat dimengerti ya. Ayo nabung saham and let's fight against financial illiteracy!

Wednesday, November 30, 2016

Perjalanan dan Tips Mencari Alat Bantu Dengar yang Cocok

Hi jadi saya mau cerita tentang pengalaman mencari alat bantu dengar yang cocok untuk mertua saya.
Dulu sekitar 9 tahun yang lalu mertua saya pernah tes audiometri di ABDI (Alat Bantu Dengar Indonesia) yang beralamat di Matraman, Salemba. Dan hasilnya ternyata kerusakan pendengaran sedang. Dan belilah dia alat bantu dengar dengan merek Phonak seharga 4 jutaan tipe ITE (in the ear) dan ga betah serta ga nyaman. Rasanya gatal, dan kualitas suara yang dihasilkan begitu ga bagus. Jadi akhirnya alat tersebut malah ga kepakai.

Perlu diketahui proses memilih ABD itu memang kompleks. Tidak semudah memilih kacamata. Jadi penting sekali memilih audiologis yg bagus. Begini kira2 analoginya:

Ini yang terjadi ketika kamu memiliki gangguan penglihatan. 
Ini yang terjadi pada kuping kamu ketika memiliki gangguan pendengaran.

Jadi ketika misalnya ada 2 orang menderita kekurangan pendengaran di level yang SAMA, belum tentu kemampuan mendengarnya juga sama. Si A dapat mendengar jelas suara lawan bicaranya di situasi yang berisik (di konser musik, kondangan, etc), dan justru tidak bisa mendengar jelas ketika lawan bicaranya di situasi tenang (rumah sakit, etc). Dan si B sebaliknya.

Dan sebelum memutuskan memakai ABD, pastikan dulu penyebab kerusakan pendengarannya karena apa, karena kerusakan pendengaran yang bisa ketolong dengan ABD adalah kerusakan pendengaran ringan dan sedang yang disebabkan oleh sel pendengaran dalam otak sudah tidak berfungsi dengan normal lagi. Untuk kerusakan pendengaran tuli berat bisa pakai ABD tipe khusus yang ditancepin ke kepala lo. Iya jadi tulang di belakang telinga lo semacem dilobangin melalui oprasi ringan untuk menancapkan ABD tsb agar suara-suara yang ditangkap oleh ABD bisa langsung dihantarkan ke syaraf-syaraf pendengaran di dalam otak (gue lupa deh nama ilmiahnya apa). Nah, kalau kerusakannya adalah tuli total, yang mana lo ga bisa dengar suara apapun, itu pilihannya adalah dengan implan koklea, kepala lo akan dibedah dan "ditanam" mesin, yang biaya oprasinya ratusan juta!

Kalau yang terjadi adalah kerusakan telinga bagian luar dan tengah, misalnya gendang telinga sobek atau infeksi, itu masih bisa disembukah dengan oprasi kalau ga salah inget biayanya 20-30 jutaan. Jadi wajib banget sebelumnya konsultasi ke dokter THT ya, tanya aja saya budeg kenapa?

Singkat cerita, baru2 ini akhirnya mertua saya ingin kembali memakai alat bantu dengar. Maka pencarian alat bantu dengar yang cocok pun dimulai. Langkah awal adalah dengan mencari tempat-tempat penjualan alat bantu dengar yang telah memiliki reputasi. Pilihan jatuh ke 4 tempat: A KASOEM CIKINI, ABDI Salemba, OPTIK MELAWAI Blok M, dan Hearing Vission.  

Sebelum saya mendatangi tempat itu satu-satu, saya juga sempet googling dulu merek-merek ABD. Dan ternyata ada banyak banget merek ABD yang dijual di pasaran. Salah satu website yang paling komprehensif membahas review ABD secara lumayan lengkap menurut saya adalah consumer affairs  


Di web tersebut terpampang nyata merek ABD dengan rate terbaik adalah Miracle-Ear, sayang saya buka websitenya baru ada di Amerika aja. SKIP!
Lalu brand lain yang menarik perhatian saya adalah Embrace-Hearing. ABD dengan harga jual jauh lebih murah. Bisa lebih murah karena dia ga punya klinik, penjualan dan interaksi 100% lewat internet. Terus gue mulai ngitung-ngitung, biaya ongkir USA-JKT bisa sejutaan lah, terus kalau masuk indo pasti kena pajak bea cukai yang ga kecil yang bahkan bisa lebih mahal dari harga barang itu sendiri karena impor barang mahal. Oke, SKIP juga! Lantas, tinggal 2 Brand aja yang bikin gue tertarik, Beltone & Resound. 
Sayangnya, di Indonesia ini sama sekali ga ada outlet resmi brand-brand ABD, adanya distributor alias tangan kedua. Paling deket ada di Singapura, outlet resmi Beltone. Jadi ya cus deh gue ke A. Kasoem:

1. A. Kasoem Cikini
Awalnya kami mau mencoba tes audiometri di A Kasoem sekalian tanya-tanya, tapi ternyata biaya tes audiometri disana cukup mahal, 200.000 dan merek abd yg dijual hanya ada merek Oticon. Jadi kami skip dulu.

2. ABDI 
Kami datang ke ABDI dengan rencana mau Tes audiometri terlebih dahulu sekaligus minta rekomendasi tentunya. Biaya tes audiometri di ABDI sebesar 55.000.
Dan sebelum tes kedua telinga diperiksa dulu. Dan ternyata telinga kanan mertua saya kotor. Jadi belum bisa dites audiometri. 
Jadi inget-inget ya, sebelum tes audiometri kedua telinga harus dalam keadaan bersih! 
Akhirnya yaudah, kami disana minta rekomendasi aja. Berikut alat-alat bantu dengar (katalog) yang tersedia di ABDI.



Harga termurah mulai dari 3,5 juta. Biasanya untuk yang murah seperti ini, kualitas suara yang dihasilkan ga begitu bagus.


Semakin mahal, suara yang dihasilkan semakin alami mendekati pendengaran normal.

Di level harga 28 jutaan alat bisa terkoneksi dengan aplikasi di iPhone, jadi pemakai bisa setting tinggi rendahnya suara-suara yang dihasilkan, seperti trebel & bass. Sayangnya belum support untuk android.

Harga termahal ada di kisaran harga 32juta :')

Daftar harga dan alat yang dijual daftar berubah sewaktu waktu.

Rate: Sorry buat saya pribadi secara keseluruhan bintang 2 deh. 

(-) Ga bisa cicilan 
(-) Nunggunya lama 
(-) Ini yang terpenting, calon pembeli ga bisa coba alatnya dulu. Harus bayar lunas dulu baru dicobain alatnya. oke SKIP! (Pokoknya guys, jangan pernah beli ABD sebelum dicoba terlebih dahulu. Karena alat tersebut belum tentu cocok dan nyaman)
(+) bisa liat lengkap daftar produknya. 

Ga ngerti juga gue kenapa disini bisa ramai dan harus nagntri selama itu. Mungkin karena tempat yang strategis kali ya dan promosi yang masif karena fb page ABDI ini sangat responsif ke customer dan sering bagi-bagi abd gratis (yang murah) hehe.


Website: ABDI 


3. Pusat Alat Bantu Dengar Melawai


Pas sampai disana dan buka pintu utama saya sempet bingung kok ini jual kacamata doang ya. Ternyata di pojokan ada lift, dan PABD MELAWAI ada di lantai paling atas. Pas udah naik saya kira bakal ramai karena hari itu hari sabtu ternyata engga. Dan ga seperti di ABDI Salemba yg mana saya harus nunggu sekitar 2 jam hingga akhirnya sampai giliran untuk bisa konsul. Kalau di Melawai saya cukup ke resepsionisnya dan nunggu ga sampai 10 menit saya udah disuruh masuk ruangan kedap suara untuk tes audiometri. 
Dan tentunya sebelum tes audiometri lo harus bersihin telinga dulu ya sampe bersih sih sih! Biar ga disuruh pulang lagi kaya waktu di ABDI.

Di Melawai itu pegawainya banyak banget dan rada gabut gitu hahaha. Dan kalau di ABDI audiologisnya masih muda sekitar awal 20an. Nah kalo di Melawai audiologisnya sudah berumur, sekitar 60an lebih kira-kira. Jadi saya agak segen nanya-nanyanya. Tapi anggap aja dia udah berpengalaman dan udah menangani banyak konsumer sebelumnya. 
Dan kalau Melawai ini calon pembeli akan ditanya-tanya dulu seputar masalah pendengarannya. Seperti sejak kapan kehilangan pendengaran? Tiba-tiba atau berangsur-angsur? Sejak umur berapa? Kesulitan mendengar di dalam kondisi seperti apa? Suka denger pake headset apa ga? Pernah tinitus apa ga? Dsb.


Baru setelah itu kupingnya diperiksa, kalo bersih lanjut audiometri. Dan setelah Tes audiometri saya nanya kan, bisa ga kita coba dulu gitu alat bantu dengar supaya sebelum membeli alat, mertua saya tau kualitas suara yang dihasilkan itu kaya gimana. Dan ternyata boleh! 
Sejak awal saya memang menegaskan mau beli alat yg high end. Sayang alat bantu dengar yang ingin dicoba dengan merek Resound LinX, sebuah alat yang paling mutakhir di kelasnya, ga bisa dicobain.


Jadi alat yang bisa dipercobakan itu merek Widex yang kata audiologisnya sebelas dua belas lah sama resound. 
Dan katanya setelah dicoba suaranya ya memang tidak sealami pendengaran normal, masih seperti mesin. Tapi percakapan di dalam ruangan jadi terdengar jelas.


Jeritan hati gue: plis dong buat semua hearing center kaya gini juga napa! Dimana sebelum beli, kita bisa cobain dulu SEMUA alatnya. Kalau bisa semua alat yang dijual bisa kita cobain buat banding. Dan semuanya dari konsul - tes audiometri - coba alat itu 100% GRATIS kaya di Melawai ini. 
Lebih bagus lagi kalau udah beli masih bisa dikembalikan kalo ga cocok atau ditukar dengan alat lain. Secara kan alat bantu dengar itu ga murah (so far sih belum ada dealer alat bantu dengar di Indonesia  yang punya retur atau exchange policy).

Kemudian setelah coba alat kita dikasih surat penawaran alias surat rekomendasi gitu deh. 
1. Widex seharga 40 jutaan dapet 2 biji untuk kuping kanan kiri. 
2. Atau Resound LinX yang harganya 30 jutaan sebiji. Kalo beli 2 ya jadi 60 jutaan!

Bapak Audiologisnya cenderung menyarankan mertua saya beli Widex. Dan galaulah saya, dan akan dipikirkan kembali setelah saya ke Hearing Vision.


Ratenya bintang 3 deh. 

(+) Servis cepet, ga usah nunggu lama. 
(+) Bisa cicilan. 
(+) Suka ada diskon 20%, pantau aja facebook pagenya.
(+) audiometrinnya GRATIS! 
(-) Tapi ga dapet recap hasil audiometrinya.
(-) Ga bisa coba semua produk. Kalau mau coba produk tertentu yang lo taksir, mending buat janji dulu deh kayanya.

Website: MELAWAI 


4. Hearing Vision 


Hearing Vision punya lumayan banyak cabang di Jakarta. Saya dan mertua sengaja datang yang di Sunter karena pusatnya disitu. Walaupun lokasinya jauh banget dari rumah saya.
Disini audiologisnya mba-mba gitu, asik sih orangnya walau agak jutek  dikit. Disini juga ga ngantri sama sekali. Untuk biaya audiometrinya sebesar 90.000 dan dapet rekap.

Yang paling plus dari Hearing Vision menurut saya adalah setelah tes audiometri calon pembeli bisa pilih alat mana aja yang mau dicoba. Dan disini cuma jual merek Beltone aja ya. Mertua saya coba Beltone Promise 17 seharga 32juta/pcs.  
Walau sayang, sama seperti tempat lain, Hearing Vision ga ada trial policy.

Rate dari gue: bintang 3,5. 
(-) bisa cicil tapi cuma buat Kartu Kredit BNI aja
(+) ga ngantri 
(+) Setelah pembelian alat, gratis setting ulang selamanya walau udah lewat masa garansi. (Untuk tempat lain gue ga tau juga bisa gratis selamanya apa ga karena gue lupa nanyain)
(+) bisa coba alat manapun yang ada disana. 
(-) Kalo bisa trial & return bintang 5 deh. 

Website: Hearing Vision


Setelah dari sini. Keputusan harus dibuat, alat mana yang harus gue beli? Gue beli widex sepasang 40jt atau resound sebiji 30jt? Dan kebetulan Melawai lagi ada diskon 20% untuk semua produknya. 
Atau gw beli Beltone Promise sebiji 32 juta? Kalau beli 2 jelas ga sanggup! 
Di tengah pertapaan gue buka-buka lagi website consumers affairs, gue baca satu-satu reviewnya. Even Widex ga masuk list, yang mana kayanya belum banyak orang yang pake Widex. Jadi skip deh.


Terus lanjut gw baca review Resound satu-satu. Ternyata banyak keluhan terkait servis dan kualitas produk itu sendiri. Dan mungkin aja kan Melawai lagi mau ngabisin stock makanya di diskon produk-produknya.


Lalu gw baca review Beltone satu-satu. Dan mayoritas reviewnya positif. Dari segi servis dan kualitas produknya. 
Perlu diketahui, setelah pembelian ABD kita pasti bolak-balik ke dealer untuk beli baterai dan setting alat. Karena settingannya harus disetting ulang setiap kurang lebih 6 bulan atau saat kita ngerasa settingannya ga pas (terlalu kecil atau terlalu keras). 

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli Beltone Promise untuk mertua saya. Karena dipikir-pikir buat apa diskon dan lebih murah kalau alatnya rewel. Sedangkan dari servis kedepannya juga gw belum tau ya, karena Melawai dan Hearing Vision itu sama, cuma dealer aja gitu, tangan kedua.
Tapi yang terpenting adalah kualitas alat itu sendiri aja dulu deh.


Oh iya, ABD ini kita bisa pilih tipe modelnya mau yg jenis apa. Tipe yang BTE (Behind the ear) atau ITE (in the ear). Pilih yang nyaman, jangan asal kecil dan ga keliatan aja. 
Kalau untuk mertua saya sih, dia pilih yg BTE. Karena ga perlu bikin cetakan lubang telinga (mold). Untuk tipe ABD yang pakai mold itu agak susah masukinnya, terlebih lagi kalau telinga lagi kotor itu akan terasa sangat gatal.


Saya putuskan untuk beli 1pcs dulu, 1nya nyusul lagi kalau udah ada duitnya hehe. 
Selain itu mungkin nanti belinya di tempat yang bisa trial. Sebelumnya saya sempat email Beltone Singapore, dan mereka ternyata ada trial policy selama 30 hari. Dan siapa tau nanti lagi ada diskon atau Beltone udah buka outlet resmi di Indonesia. Oh iya kalau misalnya mau beli 1 alat aja, harus dipastiin ke calon pemakai kira-kira lebih enak mana telinga kiri atau kanan. Karena seringkali kondisi telinga kanan dan kiri itu beda.


Lalu akhirnya saya beli juga nih beltone promise 17. Harga awalnya kan 32jutaan ternyata lagi diskon, harganya jadi 29jutaan "aja" hahaha.


Rasanya agak aneh gimana gitu pas megang alat sekecil ini tapi harganya bisa buat beli 2 motor matic!

Kalau awalnya dulu pertama kali datang kita ke Hearing Vision cabang Sunter, kali ini kita beli alatnya di cabang Dharmawangsa Square dengan alasan jauh lebih deket. Pelayanan ga beda jauh, dan tempatnya sepi juga. Duh kenapa harga alat bantu dengar digital ini ga masuk akal banget ya mahalnya, kenapa harganya ga dibikin lebih murah macem smart phone gitu kan jadi lebih banyak yang beli!

Oh iya di Hearing Vision ini kalau nanti misalnya alatnya udah rusak dan kita mau ganti model abd yang baru, maka alat bantu dengar kita yang lama bakal dibeli dalam keadaan apapun seharga 20% dari harga beli. So far sih belum bisa cerita banyak soal hearing experience nya gimana, wong alatnya juga baru dibeli. 

Tapi lumayan enak dipakainya, ga terasa gatal dikuping dan ga memberi efek telinga ketutup rapet. Ga seperti alat bantu dengar yang sebelumnya dipakai mertua gue yang tipe dimasukin ke dalam kuping yang terasa sangat gatal dan kuping terasa disumpel lilin. 
Jadi sejauh ini menurut gue belum ada dealer alat bantu dengar yang bener-bener oke hehe. Nasib negara dunia ketiga! Semoga kedepannya ada dealer yang bisa kasih layanan: cicilan dari bank apa aja, calon pembeli bisa coba semua alat yang dijual, dan yang terpenting alatnya bisa dibalikin atau ditukar kalau ternyata kita ga cocok. Amin! 

!Update! 

Jadi setelah mertua saya pakai hearing aid setahunan, kemampuan mendengar jadi meningkat sekitar 80%. Memakai hearing aid, kita jangan berekspekstasi kemampuan mendengar akan menjadi 100% ya, terlebih lagi bila alatnya yang kelas low end dan belinya hanya 1 biji. 
Yang dapat didengar kembali oleh mertua saya seperti: suara kipas angin, suara ac, suara orang lalu lalang di luar rumah, suara radio mobil, suara tv, dan yang terpenting dia dapat mendengar suara lawan bicara secara utuh terutama di tempat-tempat seperti rumah sakit atau bank atau sedang ngobrol di mobil, jika tidak memakai hearing aid dia akan sulit sekali mendengar suara-suara di tempat tersebut. Sekarang dia juga bisa ngobrol di atas motor, dengan syarat si supir harus nengok ke belakang sedikit saat berbicara. Oh iya hearing aid ini masih bisa dipakai ketika kita memakai helm, dengan catatan helmnya harus longgar. 

Suara-suara yang masih sulit didengar yaitu ketika lawan bicara memakai masker, contoh dokter di rumah sakit. Jadi walaupun sudah memakai hearing aid, tetap harus membaca gerak bibir dalam kondisi tertentu. Selain itu juga jika background suasana bising dan ribut, contoh waktu di acara kondangan dia tidak dapat mendengar jelas suara saya yang sedang berbicara padanya. 
Terhitung sudah 2 kali saya kembali ke hearing vission untuk mengurangi noise. Mendengar suara dalam kebisingan memang menjadi yang paling challenging untuk pemakai hearing aid. 
Dan karena hearing aid ini memiliki fitur  me-reduce noise, maka jika kita memanggil-manggil dia di tempat bising dari kejauhan suara kita akan ikut teredam. Maka daripada memanggil-manggil lebih baik dicolek saja. 
Lalu untuk mendengar bahasa inggris juga masih sangat sulit, jadi jangan berekspekstasi tinggi kita jadi bisa ngobrol-ngobrol inggris deh walau sudah memakai hearing aid :(

Dari segi alat, performancenya udah baguslah yah. Namun agak kecewa, belum setahun pemakaian alatnya kadang suka mati mendadak lalu nyala sendiri beberapa detik kemudian, kita sempet bawa ke hearing vision katanya ini katena baterai yang kotor. Jadi sebelum mengganti baterai baru, baterainya harus di lap dulu supaya bekas lem pelapisnya bersih. 
Semoga alatnya bisa awet ya, lagipula alatnya juga ga setiap hari dipakai, hanya saat-saat mertua saya memerlukan saja. 
Untuk baterai harganya 50 ribu isi 6pcs. 1 baterai bisa bertahan kurang lebih 24 jam pemaikaian. 


Nah segitu dulu ya updatenya. Semoga dapat membantu teman-teman yang sedang berjuang mencari hearing aid yang cocok!


Monday, November 14, 2016

Pengalaman dan Tips Berobat ke poliklinik THT Puskesmas

Kali ini saya mau cerita pengalaman pribadi berobat ke Puskesmas. Terakhir kali saya ke Puskesmas itu dulu banget pas saya masih balita. Dan sekarang setelah denger-denger pelayanan puskesmas udah bagus dan murah bahkan gratis saya jadi tertarik berobat kesana.


Begini, telinga kiri saya itu sering banget bermasalah. Gatel dan cepet kotor dan kalau kemasukan air jadi mampet, jadi tiap kali mampet ga bisa cuma pakai cotton buds atau obat tetes biasa. Bener-bener harus disedot kotorannya di dokter THT.
Sebelum ke Puskesmas, saya udah sering bersihin kuping saya di klinik THT RSUD maupun klinik swasta yang sekali bersihin kuping doang bisa abis ratusan ribu. Jadi saya mikir ga worth it aja, harga segitu cuma buat pengobatan "sepele". Jadi dulu sebelum nyoba ke Puskesmas, saya sempet ke klinik THT swasta, SS Medika yang berlokasi di Salemba Jakpus. Nah itu saya abis 235.000 cuma untuk bersihin kuping doang. Walau memang canggih sih disana jadi ada alat seperti pulpen berkamera yang dimasukan ke dalam lubang telinga kita, lalu terihat di monitor tv kondisi di dalam lubang telinga kita kaya apa. Untuk biaya bersihin kotorannya sendiri sih cuma 35000, dan biaya konsultasinya 200.000! Padahal kosnsultasinya juga biasa aja, dan singkat banget. So, gara-gara tekor bayar segitu, jadilah saya beranikan diri ke Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Saya meluncur dari rumah saya di bilangan Lenteng Agung dengan segudang keraguan. 



- Kira-kira ngantrinya panjang gak ya?

- Dokternya jutek dan ogah-ogahan ga ya?
- Sistemnya jelas gak ya?
- Dan yg terpenting, di sana ada poli THT gak ya? Jangan-jangan cuma ada poli dokter umum dan gigi doang lagi.

☆ tips: setiap memilih puskesmas, usahakan pilih yang 1 kecamatan sesuai dengan alamat KTP kamu.

Sesampainya disana jam 10an, terlihat antrian puanjaaanng di sebelah kanan gedung. Tapi saya langsung masuk aja ke lobinya. Dan tanya ke satpam kalo mau daftar kemana? Dia bilang katanya kesana, ke tempat antrian di luar tadi untuk ambil nomer. 

Begitu sampai langsung terlihat antrian panjang ini di halaman luar Puskesmas.


Saya pun ambil nomer. Dan di kertas ada tulisan loket 1-4, saya cari di sekitar ga ada loket 1, akhirnya saya samperin lagi satpam yg tadi buat nanya dimana itu loket 1? Ternyata ada di lantai 2! Antrian panjang itu ternyata antrian apotek untuk ambil obat. Naiklah saya ke lantai 2, dan terlihat antrian membludak lainnya. Dan disitulah saya harus menunggu nomer saya dipanggil.

Tapi walaupun antriannya panjang, pelayanannya lumayan cepet kok. Total ada 4 loket, dan uang pendaftaran cuma 5000 perak aja dan cuma diminta KTP. 

Antrian di loket pendaftaran lantai 2.


☆ tips: datang sebelum jam 11 karena pendaftaran puskesmas tutup jam setengah 12 siang.


Setelah itu saya dikasih kertas untuk langsung ke poli THT. Setelah muter-muter ga ketemu-temu dimana poli THT nya, akhirnya saya tanya dimana, dan ternyata poli THT digabung 1 ruangan sama poli Umum.

Pikiran saya jadi ga enak, Jangan-jangan nanti diperiksanya cuma kuping dikasih senter doang lagi, terus kupingnya dibersihkan ala kadarnya, bukan dengan bangku khusus buat sedot telinga yg biasanya ada di klinik THT.
Untungnya antrian di sana ga terlalu panjang, dan ketika nama saya dipanggil lalu saya masuk ke ruangan, ternyata bangku khusus tersebut ada di balik pintu, deuhh pantes aja ga keliatan!

Kemudian saya dipersilahkan duduk untuk dibersihkan telinganya. Dan sejauh itu petugas-petugasnya lumayan ramah kok.

Bahkan dokter THT nya sempet bercanda, "nih congeknya mau dibawa pulang ga?" Hahaha 

Layanan-layanan yang ada di Puskesmas. Lumayan lengkap juga kan.

Dokter-dokter di Puskesmas juga seringkali didatangkan dari RSCM.

☆ tips: kalau mau ke Puskesmas lebih baik datang pada hari kerja. Kalau hari sabtu pasti jauh lebih ramai lagi.


Setelah selesai, saya dikasih nota untuk dibawa ke kasir (tempat pendaftaran tadi), dan ternyata biaya bersihin telinga di Puskesmas adalah sebesar 30000 saja.

Ya lumayan banget lah dibanding harus ke klinik swasta yg bisa abis ratusan ribu. Oh iya saya ga pakai BPJS loh. Saya kesini cuma bermodalkan KTP aja.
Total biaya yg dikeluarkan 35000, dan saya datang jam 10 pagi, jam setengah 1 siang udah balik.
Jadi kalau mengalami sakit yg ga terlalu parah, coba aja berobat di puskesmas sesuai dengan kecamatannya masing2. Semoga membantu dan cepat sembuh!

UPDATE: Sekarang berhubung saya sudah mempunyai kartu BPJS / KIS, saya sudah tidak perlu lagi ke berobat ke Puskesmas ini dan tentunya ga perlu bayar lagi hehe. Silahkan dibaca detilnya: Proses Pembuatan BPJS & Pengalaman Berobat di RS Rujukan Siloam Hospitals

Tuesday, October 25, 2016

Pengalaman menjadi Nasabah Bank BNI, BCA, dan Commonwealth

Disini saya mau berbagi pengalaman sebagai nasabah dari 3 bank di Indonesia. Yaitu BNI, BCA, Commonwealth bank, siapa tahu berguna. 

Ini 100% real pengalaman saya selama bertahun-tahun menjadi nasabah mereka. Tidak ada maksud mejelek-jelekkan ataupun promosi. Dengan harapan dapat membantu jikalau ada teman-teman yang sedang ingin membuka rekening dan semoga dapat menjadi kritik dan masukan untuk bank-bank tersebut.


1. BNI
Ini bank pertama yang saya punya, dibuat waktu jaman kuliah dulu pada tahun 2010. 
Jujur saya membuka rekening BNI karena terpaksa sebenarnya karena tempat saya kuliah memiliki afiliasi dengan BNI untuk membayar segala jenis uang perkuliahan. Padahal saya belum membutuhkan rekening bank pada saat itu dan anggota keluarga saya tidak ada yang punya BNI.

- Tidak lama setelah saya memiliki rekening BNI, saya mendapat telepon dari agen asuransi Sunlife. Dia menawarkan saya menjadi nasabah asuransi mereka. Jika saya setuju tiap bulan dana di rekening saya terpotong otomatis untuk pembayaran premi.
Saya menduga sepertinya data-data nasabah BNI dijual kepada agen-agen asuransi. Kalau tidak, darimana mereka tahu saya adalah nasabah BNI dan tahu nomer handphone saya. 
Beruntung hal ini terjadi sekali saja itupun dulu, semoga sekarang tidak lagi. Dan saya juga sudah ganti nomer handphone.

- Sejak lulus kuliah rekening BNI saya kurang terpakai. Karena jarang orang yang punya rekening BNI, kebanyakan BCA. Jadilah rekening BNI hanya menjadi saving account saja.

- BNI memiliki online security system yang ketat. Dan kadang buat saya itu menjadi hal sangat menjengkelkan. Misalnya tiap kurun waktu tertentu (setahun kalau tidak salah) kita diwajibkan mengganti password ebanking. Jadi resiko lupa password besar sekali, apalagi buat saya yang jarang-jarang aja membuka ebanking BNI. 
Pernah beberapa kali saya tidak bisa login karena pada login sebelumnya saya lupa log out. Plis deh! 
Tapi mungkin ini akan berguna untuk teman-teman yang menghendaki sistem online banking yang benar-benar aman.

- Sebaliknya saya merasa tidak aman dengan membawa debit card BNI dalam dompet saya. Karena kalau kita berbelanja dengan menggunakan debit BNI, itu memakai sistem tanda tangan, bukan password. Jadi di kasir kita tinggal gesek aja terus tandatangan di kertasnya, si kasir mana tahu juga itu tandatangan kita apa bukan, apakah saya pemilik sah kartu tersebut.
Pernah suatu kali saya apes kecopetan di dalam angkot, beruntung saya cepat sadar dompet saya beserta ktp dan debit card BNI yang ada di dalamnya sudah raib dari tas, buru-buru saya turun dari angkot, yang beruntung juga di dekat situ ada kantor cabang BNI. Langsung saya lari kesana untuk memblokir kartu debit saya secepatnya. Dan dalam kondisi mendesak seperti itu saya masih diharuskan antri, padahal saya sudah menjelaskan situasinya. Alhamdulillah selesai diblokir saya cek mutasi, dana saya masih utuh. Jika telat sedikit saja mungkin dana dalam rekening BNI saya sudah ludes dibelanjakan si pencopet. Dan setelah itu saya gak pernah lagi membawa debit BNI berpergian. Saya simpan saja di lemari. 
Namun baru-baru ini saya mencoba berbelanja dengan Debit Card BNI, sekarang sudah PIN. Alhamdu?

- BNI tidak memiliki afiliasi dengan BCA. BNI termasuk ke dalam jaringan ATM bersama, sedangkan BCA termasuk dalam jaringan ATM prima. 
Jadi kalau mau transfer dari BNI ke BCA atau sebaliknya itu mahal banget biaya administrasinya, 25000 kalau tidak salah. Padahal BCA itu rekening sejuta umat. Yang mana mungkin banget kan kita akan bertransaksi dengan orang-orang yang memiliki rekening BCA.

- Lalu, ini pengalaman yang paling mengesalkan dengan BNI, beberapa bulan yang lalu saya datang ke kantor cabang BNI setelah mencari-cari waktu di tengah kesibukan. Untuk mengaktifkan fitur ebanking BNI saya, agar dapat melakukan transaksi finansial (transfer, pembayaran tagihan-tagihan, dll secara online banking). 
Setelah antri 1 jam, dan mengisi lembar administrasi pendaftaran juga pembayaran pembelian token sebesar 10.000 rupiah. Kemudian di akhir saat saya mau cabut, saya tanya ke customer service BNI yang melayani saya, "Mba ini sudah langsung aktif kan transaksi ebanking nya?" Dia bilang iya sudah langsung aktif.
Lalu saya pulang naik motor menembus hujan deras.
Sampai di rumah, malam harinya saya buka akun ebanking saya. Dan ZONK! Saya belum bisa melakukan transaksi apapun. Tab opsi "transaksi" belum ada. Pada saat itu saya masih positive thinking, lalu saya tunggu sampai esok harinya, dan esok harinya lagi, sampai hari ini pun transaksi ebanking saya belum aktif! 
Padahal sudah dibela-belain banget dateng ke kantor cabang, antri 1 jam, dan pulang menembus hujan. Saya juga sempet telepon ke BNI call center untuk menanyakan hal ini (makan pulsa juga tuh ya), dan katanya ini karena nomer KTP dan nomer telepon saya berbeda. Lho kenapa pada saat registrasi tidak sekalian diganti, padahal waktu registrasi saya sudah menunjukan ktp asli saya, nomer ktpnya memang sudah berubah karena pergantian e-ktp. Dan saya sudah info juga pada saat registrasi saya ganti nomer hp. 
Setelah selang 6 tahun, dari tahun 2010-2016 kebanyakan orang juga udah pada ganti nomer hp keleus! 
Jadi solusi terakhir saya harus balik lagi ke kantor cabang.
Hah big no! Satu-satunya hal yg ingin saya lakukan ketika saya bisa datang ke kantor cabang BNI (lagi) adalah untuk menutup rekening saya.


2. BCA 
BCA adalah rekening bank kedua yang saya buat setelah BNI. Saya buat pada tahun 2013 dengan alasan mendesak, karena pada saat itu saya memiliki usaha online yang mana customer saya kebanyakan (dan pastinya) minta rekening BCA untuk transfer.

- BCA terkenal dengan plesetan "Bank Capek Antri". Bagaimana tidak, secara ini bank sejuta umat. Kalau kepepet bener-bener harus datang ke kantor cabang, bener-bener harus sabar antri, minimal sediakan waktu 2 jam lah untuk antri. Tapi syukurnya, layanan BCA banyak yang dapat dilakukan melalui online. Terhitung hanya 2x saja saya harus datang ke kantor cabang, pertama saat membuka rekening dan kedua waktu mau apply kartu kredit.
Mesin ATM BCA juga termasuk yang paling panjang antriannya ketimbang mesin ATM lain, coba aja lihat aja di mall-mall. Selain masalah antrian tersebut, saya mengaku puas-puas aja dengan servis layanan BCA.

- BCA bisa dibilang bank paling inovatif di Indonesia. Maka dari itu tanpa sadar, rekening BCA menjadi rekening utama saya. Karena pada waktu membuat rekening BCA hanya dimaksudkan untuk menerima transfer dari customer saya. Tapi lama-lama segala aktivitas finansial seperti membayar semua tagihan-tagihan bulanan, pembayaran cicilan mobil, kegiatan transfer dana online, jual beli online, transaksi debit card, flazz card untuk naik busway & kereta dll saya lakukan menggunakan BCA saya karena memang BCA itu menawarkan banyak metode pembayaran dan produk-produk perbankan untuk memudahkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu nasabahnya yang begibun.

- Saya merasa aman membawa debit card BCA saya kemanapun karena tidak menggunakan sistem tandatangan tapi pakai password. Jadi walaupun misalnya debit card BCA saya ini kecopetan, saya masih bisa santai dan ga kelimpungan lari-lari ke kantor cabang untuk memblokir. Toh si pencuri gak tahu ini passwordnya apa. Dan sekarang pemegang kartu kredit BCA juga bisa mengganti dari sistem tandatangan menjadi password. 

- Waktu membuat kartu kredit BCA juga prosesnya lumayan mudah dan cepat. Sejujurnya saya bukan tipe orang yang shopaholic yang gampang kemakan promo-promo belanja. Saya bikin kartu kredit untuk membuat akun paypal dan sewaktu-waktu untuk membeli tiket pesawat promo. Untuk pembayaran maskapai internasional tidak ada metode lain selain dengan kartu kredit.
Kedepannya mungkin saya akan coba membeli tiket pesawat yang harganya melebihi limit kartu kredit  saya, pengalamannya akan saya update lagi disini nanti.

- Biaya administrasi bulanan BCA lebih mahal dari kebanyakan bank lain, yaitu 15000 rupiah perbulan. Begitu juga dengan berbelanja dengan kartu kredit BCA, ada biaya materai sekitar 3000 rupiah yang dibebankan ke basabah tiap tagihannya datang perbulan. Dan saya baru tahu belakangan kalau ada beberapa bank yang tidak membebankan biaya materai ke nasabahnya (ditanggung pihak bank).

- Layanan ebanking BCA juga so far so good lah. Saya ga pernah mengalami masalah yang berarti. Tampilan interface  aplikasi dan websitenya user friendly, tidak perlu gonta ganti password, transfer-transfer dan membayar tagihan lancar-lancar aja. Dan walaupun misalnya lupa log out juga ga masalah kok. Saya masih bisa login dengan lancar setelah itu.


3. Commonwealth Bank.
Bank asal Australia ini merupakan bank ketiga yang saya buat tujuan utama untuk membuka rekening adalah menjadikannya sebagai investment account saja. 

- Karena tergolong bank baru jadi wajar kalau nasabahnya masih sedikit, dan jumlah kantor cabang dan mesin ATM nya masih belum banyak tersebar dan baru ada di kota-kota besar saja. Tapi ga masalah lah, memang tujuannya cuma untuk rekening investasi aja, bukan untuk belanja-belanja.

- Karena nasabahnya yang masih sedikit inilah, saya ke kantor cabang commbank untuk buka rekening aja diperlakukan bak raja hahaha. Tidak perlu antri sama sekali, bank officers nya juga ramah-ramah banget, dan disana juga ada prasmanan makanan kue-kue kecil yang bisa kita ambil semaunya. Ga tau sih sekarang kaya gimana, semoga masih tetap sama.

- Seperti yang sudah dibilang di atas. Bahwa saya membuka rekening Commbank adalah untuk keperluan investasi, dalam bentuk reksa dana. Jadi keunggulan commbank ini adalah satu-satunya bank (cmiiw) di indonesia dimana kita bisa membeli dan menjual reksa dana secara online. Tinggal klak klik aja gitu. Sedangkan di bank lain kita harus bolak balik ke kantor cabang tiap mau membeli reksadana. Kita cukup datang ke kantor cabang pada saat membuka rekening Commbank dan membuka rekening reksadana yang kita pilih. Di Commbank ada banyak banget pilihan perusahaan sekuritas reksadana yang bisa kita pilih. Makanya bank ini disebut sebagai supermarket reksadana. Saya sendiri sudah merasakan manfaat dengan memiliki reksadana. Hasilnya lumayan banget ketimbang nabung doang. Nih yang mau memulai reksadana saya jelaskan disini bagaimana cara memulainya: Cara Memulai Reksadana Saham

Segitu dulu deh, sekali lagi saya membuat tulisan ini hanya untuk berbagi, bukan untuk promosi dan menjelek-jelekan. Dan sebaiknya tidak dijadikan acuan, karena pengalaman orang pasti beda-beda. Ada yang punya pengalaman positif atau negatif dengan bank? Cerita dong di kolom komen, karena pasti banyak yang terbantu dengan sharing nya.